Home » » Mossad "Kalah" Sama BIN

Mossad "Kalah" Sama BIN

Mossad masuk dalam jajaran salah satu Badan Intelijen terbaik di dunia. Pamornya sejajar dengan CIA Amerika dan M16 Inggris. Tapi apakah benar begitu adanya? Baca dulu fakta dibawah ini, setelah itu tentukan apakah Mossad merupakan badan intel terbaik dunia.


21 Juli 1973
Hari naas itu tak bisa dihindari Ahmad Buchiki. Dia lagi berjalan-jalan bersama istrinya yang sedang mengandung. Namun, siapa sangka bila hari itu adalah saat terakhir dia bersama orang yang dicintainya.

Tiba-tiba tubuh pria berusia 30 tahun keturunan Aljazair itu diberondong senapan. Pria yang bekerja sebagai pelayan di Lillehammer akhirnya tewas seketika.

Keesokan harinya, 22 Juli 1973, pihak kepolisian Norwegia berhasil mengungkap pelaku pembunuhan itu. Mereka para agen Mossad. Dua di antara  mereka, Dan Ert dan Marianne Gladnikoff, tertangkap saat berada di bandara Oslo. Pelaku lainnya digrebek saat berada di sebuah rumah persembunyian.

Mereka datang ke Norwegia sebenarnya untuk menghabisi Hassan Salamah, Kepala Intelijen PLO yang dituduh sebagai otak pembunuhan 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich tahun 1972.

Namun, mereka salah mengidentifikasi. Pria yang mereka berondong itu bukan orang yang mereka cari. Akibatnya, pada tahun 1996, pemerintah Israel membayar kompensasi sebesar 283.000 US dollar kepada istri dan anak-anak Buchiki.

Para agen Mossad itu tidak lama mendekam di penjara, karena mendapat pengampunan. Sementara kepala operasinya, Mike Harari, tidak ditangkap dan ia kemudian berpetualang sebagai penjual senjata internasional. Kejadian yang dikenal dengan Peristiwa Lillehammer ini merupakan satu dari rentetan kegagalan Mossad.

Masih ada beberapa kegagalan fatal lainnya. Padahal, Mossad biasa digambarkan sebagai badan intelijen yang hebat dan seakan-akan tidak mengenal kegagalan. Berikut ini beberapa peristiwa yang memaksa Mossad menjadi pecundang:

1954:
Saat musim panas, pelaku Operasi  Susannah tertangkap oleh pemerintah Mesir. Mereka meledakkan beberapa fasilitas Amerika dan Inggris di Kairo dan Iskandaria. Tujuan mereka agar pemerintah Mesir menuding Al Ikhwan Al Muslimun sebagai pelakunya.

18 Mei 1965:


Eli Cohen, seorang mata-mata Mossad dihukum gantung di Damaskus Square, setelah dua tahun menjalankan aksinya. Dia membocorkan rahasia militer Syiria kepada Israel.

24 April 1991:
Empat agen Mossad ditangkap karena berusaha memasang alat penyadap di Kedutaan Iran di Nicosia, Siprus. Mereka dibebaskan setelah disidang, karena membayar uang tebusan sebesar USD 1.000.

15 November 1995:
Tidak hanya gagal menjalankan tugas, bahkan Mossad gagal melindungi Perdana Menteri mereka sendiri, Yitzak Rabin dari pembunuhan yang dilakukan Yigal Amir, seorang warga Israel. Menyusul peristiwa itu, Shabtai Shavit didesak mundur dari jabatannya sebagai Direktur Mossad. Kemudian Shimon Peres menunjuk Danny Yatom sebagai pengganti.

24 September 1997:
Saat itu tanggal 25 Desember 1997, seperti biasa, Khalid Misy’al berangkat menuju kantornya di Syamiyah Pusat, Amman. Seperti rutinnya, pengamanan untuk salah satu aktivis Hamas ini tidak istimewa, hanya dua pengawal yang menemani. Namun, tidak seperti hari-hari sebelumnya, Khalid melihat ada yang tidak beres di perjalanan menuju kantornya waktu itu. Ia amati ada sebuah mobil yang terus mengikutinya, sejak ia meninggalkan rumah. Biasanya, kalau ada hal-hal yang mencurigakan Khalid akan memberitahu pengawalnya, namun kali ini tidak.

Sebelum mobil sampai di kantor, mobil yang sejak lama menguntit segera mendahului. Lalu keluarlah dua laki-laki berwajah asing dengan kacamata hitam, mereka mendekati mobil yang Khalid masih berada di dalamnya. Kewaspadaan laki-laki yang pernah mendalami fisika di Universitas Kuwait ini semakin tinggi tatkala melihat wajah mereka berdua tampak gelisah. Ia memilih keluar dengan perlahan-lahan ke arah belakang mobil untuk menghindari mereka. Benar apa yang telah diperkirakan sebelumnya, dua orang itu tiba-tiba melakukan penyerangan dan sempat menyuntikkan racun berbahaya ke telinganya. Mereka kabur dengan anggapan bahwa operasi telah sukses, tanpa menyadari bahwa Abu Saif, pengawal Khalid yang menaiki mobil lain mengejar mereka. Namun, kedua pria asing itu berhasil memasuki mobil yang telah menunggunya di lokasi yang berjarak 300 meter dari tempat kejadian perkara (TKP), di dekat restoran At Tsarawat.

Abu Saif, tidak melepaskan sasarannya begitu saja. “Naluri perburuan” pengawal yang satu ini sangat baik. Ia berhasil mencegat mobil yang melintas pertama kali, dan meminta sopirnya membantu melakukan pengejaran. Ia terus mengikuti mobil musuh hingga di jalan-jalan pemukiman. Rupanya, yang diikuti tidak menyadari hal itu. Di jalan Madinah Munawwarah, kedua orang yang diburu itu keluar menuju mobil lainnya yang telah menunggu mereka. Saat itulah Abu Saif muncul, dan bergulatan terjadi. Agen Mossad lainnya yang berada di mobil sontak kabur bersama mobil mereka, ditengarai mereka mencari perlindungan di Kedutaan Israel yang hanya berjarak 1 kilometer dari TKP.

Kini hanya tinggal dua agen. Mereka menghadapai Abu Saif tanpa menggunakan senjata api, namun salah satu dari mereka menggunakan pisau, dan berhasil melukainya. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu berkumpul, setelah melihat ada keributan. Abu Saif mengatakan bahwa ia sedang berkelahi dengan anggota Mossad yang hendak membunuh Khalid. Mereka kemudian ikut membantu. Akhirnya, nasib kedua agen mirip pelaku kriminal jalanan yang tertangkap masa.

Kebetulan juga, seorang perwira Tentara Pembebasan Palestina (PLA) ada di lokasi. Dialah yang membawa kedua pelaku ke kantor polisi di Wadi Seir. Abu Saif menjelaskan apa yang telah terjadi kepada aparat. Kemudian ia segera menghubungi Khalid bahwa kedua agen Mossad itu telah tertangkap.

Buat saya BIN masih lebih hebat ketimbang MOSSAD. Harusnya MOSSAD banyak-banyak belajar sama BIN :-)

Sumber ; http://hidayatullah.com

0 comments:

Yang Ikut-Ikutan