Ibas-Aliya, Nikah Pakai Fasilitas Negara. Halal Nggak?

Pernikahan Ibas-Aliya, sepasang anak pejabat super penting digelar secara meriah di Istana Cipanas hari ini. Nonton sekilas kayaknya meriah dan 'wah', apalagi maharnya sampai 100 gram emas. Sumpah, saya sampe ngiler ngedengarnya, soalnya kepengen banget punya emas buat investasi (kasihan deh saya). Belum lagi tamu-tamunya yang datang, kayaknya nggak ada deh yang naik ojek motor apalagi naik angkot :-)

Pernikahan Ibas - Aliya
Beberapa kalangan mengatakan ini bukan cuma penyatuan dua raga, tapi juga dua partai. Ahh, kalau udah bicara partai saya langsung ilfeel.

Saya secara pribadi turut bergembira. Secara pernikahan itu kan juga ibadah, dan jelas jauh lebih baik daripada kumpul sama kebo, ya kan? Namun disisi lain saya juga sedih, ternyata perhelatan sakral ini justru malah mengganggu aktifitas asasi yang menyangkut hajat orang banyak.

Ibas-Aliya sekeluarga boleh bersuka cita, tapi Ibas-Aliya sekeluarga juga harus menyesal karena pernikahan mewah mereka justru menyebabkan 4 sekolah dasar di sekitar Istana Cipanas meliburkan aktifitas belajar mengajarnya. Ditambah lagi anggota-anggota dewan yang mangkir dari tugas kenegaraannya karena menghadiri ritual ijab-kabul.

Pendidikan adalah hak seluruh warga negeri ini. Terus kenapa cuma gara-gara pernikahan Ibas - Aliya ini hal itu terabaikan. Lebih jauh, apa rakyat sekitar yang terkena dampaknya mendapat kompensasi? Misalnya beasiswa gratis, yah minimalnya makanan prasmanannya dibagi-bagi, setahu saya nggak tuh! Kalau istilah betawinya 'Situ yang enak, sini yang blangsak'

Lebih parah lagi anggota-anggota dewan yang mangkir dari tugas untuk menghadiri ijab-kabul Ibas-Aliya. Duh.. bingung saya, sebenarnya apa sih yang ada dikepala mereka? Bukannya mikirin nasib rakyat yang semakin 'jelata', malah 'jalan-jalan' ke puncak nonton orang 'kawinan'. Padahal mereka dibayar pakai duit rakyat.  Kesananya juga pakai mobil yang dibeli pakai duit rakyat.

Terus muncul kontroversi tentang halal atau tidaknya pemakain fasilitas negara. Sebagian kalangan bilang ini 'haram', masa fasilitas negara dipakai untuk kepentingan pribadi. Sebagian lain bilang, 'Ini sudah menjadi hak kepala negara'.

Terlepas dari 'halal' atau 'haramnya' pemakaian fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, saya teringat dengan kisah Umar bin Abdul Aziz, beliau adalah seorang pemimpin setingkat presiden kalau sekarang. Suatu malam, setelah selesai mengerjakan tugas kenegaraan, seseorang mengucapkan salam memohon izin untuk masuk. Lalu Umar mempersilahkannya masuk. Orang itu berkata, 'Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda.'. Umar berkata,'Tentang negara, atau pribadi?' Orang itu menjawab, 'Pribadi'. Lalu Umar mematikan lampu minyaknya dan menyalakan lilin. Orang itu bertanya keheranan, 'Kenapa Anda melakukan itu?!' Umar menjawab dengan tegas, 'Lampu minyak ini milik negara, milik rakyat. Saya tidak mau menggunakannya demi kepentingan pribadi.'

Acara pernikahan Ibas-Aliya, secara legalitas kenegaraan mungkin boleh diselenggarakan secara mewah menurut saya dan menggunakan fasilitas negara. Namun di situasi yang serba susah dan himpitan ekonomi yang kian meradang, saya rasa hal itu tidak layak dilakukan oleh seorang pemimpin. Hanya saja semua kembali ke yang bersangkutan, silahkan lakukan apa yang Anda inginkan, biar rakyat yang menilai.

0 comments:

Yang Ikut-Ikutan